Minggu, 17 Agustus 2008

teknologi Televisi Digital

TEKNOLOGI TELEVISI DIGITAL

Indonesia sebagai negara berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa merupakan pasar potensial untuk berbagai jenis usaha termasuk televisi. Sedangkan dikawasan Asia Pasifik saat ini terdapat sebanyak 500 juta pesawat penerima televisi yang tentunya masih analog. Menurut PHILIPS Co., sebuah perusahaan manufaktur pesawat penerima televisi, diperkirakan sebanyak 50% hingga 70% dari jumlah rumah tangga dikawasan ini diharapkan akan dapat memiliki pesawat penerima televisi digital sehingga ini merupakan pasar yang luar biasa besar. Suatu target perkiraan yang tidak main-main karena PHILIPS Co. telah berpengalaman dalam pengembangan pesawat televisi selama lebih dari 60 tahun.

Berdasarkan survey biro data dan statistic tahun 1997 bahwa penduduk Indonesia khususnya yang berumur 10 tahun keatas 78,22 persen menonton televisi. Bagi perusahaan manufaktur dan penyelenggara jasa televisi siaran maka besaran tersebut merupakan pasar potensial, sedangkan bagi pemerintah angka tersebut menjadi besaran yg harus dipertimbangkan dalam penerapan kebijaksanaan peralihan teknologi televisi analog ke televisi digital.

Siaran TV digital adalah siaran TV yang dipancarkan dengan sistem digital. Apanya yang digital? Jawabnya: pemancar radionya menggunakan teknik modulasi digital, yang berbeda dari teknik modulasi analog (AM/VSB dan FM) yang selama ini dipakai pada siaran TV Analog. Pada masa sekarang ini, perangkat studionya bisa saja tetap karena semuanya sudah cukup lama berteknologi digital (computerized, seperti AudioCD, MP3, WAV, VCD, MPEG, DVD, dan lainnya). Jadi, pada dasarnya yang berubah di sisi operator hanyalah unit pemancarnya saja. Namun demikian, karena sinyal yang dipancarkan berbeda bentuk, maka untuk bisa menerima siaran TV Digital ini, semua pemirsa harus memiliki unit penerima yang cocok.

Kehadiran penyiaran televisi secara digital merupakan hal yang ditunggu-tunggu atau malah sebaliknya. Bukan hanya bisnis media televisi yang akan mengalami perombakan total, tetapi jutaan pesawat televisi pun sekarang harus menggunakan alat khusus untuk menerima siaran digital.

Peristiwa ini akan menjadi tikungan tajam bagi para pengusaha. Jika tidak siap, mereka akan disalip kompetitor yang ada di belakangnya. Tetapi situasi peralihan ini juga menjadi peluang bagi yang sekarang tertinggal, atau bahkan baru mulai sama sekali, untuk bisa menjadi pemain papan atas.
Secara teknik frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital sehingga tidak perlu ada perubahan pita alokasi baik VHF maupun UHF. Sedangkan lebar pita frekuensi yang digunakan untuk analog dan digital berbanding 1 : 6 artinya bila pada teknologi analog memerlukan pita selebar 8 MHz untuk satu kanal transmisi, maka pada teknologi digital dengan lebar pita frekuensi yang sama dengan teknik multiplek dapat digunakan untuk memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus dengan program yang berbeda tentunya.Dengan demikian teknologi digital jelas lebih efisien dalam pemanfaatan spektrum. Namun demikian trend yang ada yaitu satu penyelenggara televisi digital meminta spektrum dalam jumlah yang cukup besar artinya tidak cukup hanya 1 (satu) kanal carrier melainkan lebih. Karena dalam penyelenggaraannya nanti penyelenggara hanya akan berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan yaitu untuk mentransfer program dari stasiun-stasiun televisi lain yang ada di dunia menjadi satu paket layanan sebagaimana penyelenggaraan televisi kabel berlangganan yang ada saat ini.

Frekuensi TV digital terrestrial sama dengan frekuensi TV analog terrestrial yang ada dewasa ini, yaitu kanal VHF dan UHF. Menarik untuk disimak bahwa pada alokasi frekuensi tersebut 170 ? 230 MHz dan 470 ? 890 MHz sebetulnya alokasi frekuensi yang telah diberlakukan I.T.U untuk Region 3 (Asia Pasifik) tidak eksklusif untuk penyiaran, melainkan untuk : Fixed, Mobile dan Broadcasting. Padahal servis yang dapat ditawarkan oleh TV digital selain TV siaran, juga internet, komunikasi data, bahkan voice teleponipun bisa, mengingat kemampuan komunikasi duplex (dua arah) pun dapat dilakukan pada teknologi TV digital ini. Sehingga jika ada pihak-pihak yang menganggap frekuensi penyiaran dapat dipisah dengan frekuensi telekomunikasi, fenomena TV digital mementahkan anggapan tersebut. Fenomena TV digital merupakan salah satu contoh konvergensi antara Teknologi Informasi, Telekomunikasi dan Penyiaran.

Di negara-negara Eropa, kebutuhan jaringan akses penyiaran telah banyak dilakukan oleh TV satelit dan jaringan TV kabel yang relatif mempunyai jumlah kanal yang jauh lebih banyak dibandingkan TV analog terrestrial biasa. Dengan rencana transisi TV analog menjadi TV digital dalam jangka waktu yang telah disepakati, dan penambahan jumlah kanal TV dalam teknologi TV digital, maka negara Eropa merencanakan pula untukmenggunakan sebagian kanal frekuensi TV analog di UHF untuk menjadi "extention band" dari IMT-2000. Apalagi hal ini telah diperkuat oleh keputusan dari WRC-2000, Istanbul-Turki, yang membuka kesempatan negara-negara di seluruh dunia untuk memilih pita frekuensi 806 ? 960 MHz, 1710 ? 1880 MHz dan 2520 ? 2670 MHz sebagai "extention band" dari IMT-2000.

Oleh karena itu untuk antisipasi meningkatnya permohonan penyelenggaraan televisi dimasa depan dan agar lebih efisien maka dapat ditempuh suatu terobosan suatu kebijakan dalam pemanfaatan spektrum frekuensi, misalkan penyelenggara televisi digital hanya berfungsi sebagai operator penyelenggara jaringan televisi digital, sedangkan programnya dapat diselenggarakan oleh operator yang khusus menyelenggarakan jasa program televisi digital (operator lain). Dari aspek regulasi akan terdapat ijin penyelenggara jaringan dan ijin penyelenggara jasa sehingga dapat menampung sekian banyak perusahaan baru yang akan bergerak dibidang penyelenggaraan televisi digital. Dengan demikian akan dapat dihindari adanya monopoli penyelenggaraan televisi digital di Indonesia.

Patut diperhatikan bahwa standar system TV analog terrestrial kita adalah standar system PAL yang merupakan standar Eropa. Kebanyakan negara Asia Pasifik (kecuali Jepang) telah menggunakan standar PAL untuk standar TV analog terrestrial. Beberapa negara Asia Pasifik yang telah mulai menerapkan TV digital seperti Singapura dan Australia menggunakan teknologi DVB-T (Digital Video Broadcasting ? Terrestrial) yang merupakan standar Eropa.

Selain standar Eropa (DVB-T), untuk TV digital terdapat pula standar TV digital dari Jepang (DTTB) dan Amerika (ATSC). Hal ini merupakan kelanjutan dari tiga standar TV analog, yaitu PAL (Eropa), NTSC (Amerika) dan SECAM (Jepang). Walaupun demikian saat ini terdapat usaha-usaha dari negara-negara tersebut untuk menstandarisasikan teknologi TV digital, sehingga antar ketiga standar tersebut terdapat beberapa kesamaan, dan diharapkan memudahkan untuk diproduksi secara masal dan akhirnya membuat harga produksi menjadi murah.

Pemilihan standar sangatlah esensial bagi setiap negara. Kita ingat pengalaman buruk saat standar video "Betamax" beberapa tahun yang lalu, yang ternyata hanya digunakan di Indonesia saja. Sedangkan negara lain menggunakan standar "VHS". Lambat laun teknologi "Betamax" jauh tertinggal dibandingkan dengan teknologi "VHS", dan akhirnya mati. Sehingga sulit saat ini kita mendapatkan produk video standar "Betamax" di pasaran. Berapa kerugian yang dialami masyarakat Indonesia yang telah membeli video "Betamax" ? Apakah anda termasuk ? Kita tidak ingin mengulangi pengalaman seperti itu lagi. Pemilihan standar TV digital harus dilakukan secara hati-hati, melibatkan berbagai pihak, dan kalau bisa harus menjadi konsensus nasional.

Mengapa perlu masa transisi ? Alasan utama adalah melindungi puluhan juta pemirsa (masyarakat) yang telah memiliki pesawat penerima TV analog untuk dapat secara perlahan-lahan beralih ke teknologi TV digital dengan tanpa terputus layanan siaran yang ada selama ini. Selain juga melindungi industri dan investasi operator TV analog yang telah ada, dengan memberi kesempatan prioritas bagi operator TV eksisting.

Keuntungan memberikan prioritas kepada operator TV eksisting adalah mereka dapat memanfaatkan infrastruktur yang telah dibangun, seperti studio, tower, bangunan, SDM dan lain sebagainya. Selain itu karena infrastruktur TV digital terrestrial relatif jauh lebih mahal dibandingkan dengan infrastruktur TV analog, maka efisiensi dan penggunaan kembali fasilitas dan infrastruktur yang telah dibangun menjadi sangat penting. Hal ini dilakukan di negara-negara maju yang telah mapan seperti Australia, Inggris, negara Eropa daratan, Amerika Serikat dan Jepang.

Walaupun demikian untuk membuka kesempatan bagi pendatang baru di dunia TV siaran digital ini, maka dapat ditempuh pola Kerja Sama Operasi antar penyelenggara TV eksisting dengan calon penyelenggara TV digital. Sehingga di kemudian hari penyelenggara TV digital dapat dibagi menjadi "network provider" dan "program / content provider". Dengan kemampuan efisiensi frekuensi 1 : 6, berarti bisa saja dalam kanal RF yang sama diisi 6 program stasiun TV yang berbeda. Tetapi satu hal yang harus diperhatikan bahwa apapun kebijakan yang akan diambil harus tetap melibatkan penyelenggara TV analog eksisting, industri televisi dan juga masyarakat.

Jika kanal TV digital ini diberikan secara sembarangan kepada pendatang baru, selain penyelenggara TV siaran digital terrestrial harus membangun sendiri infrastruktur dari nol, maka kesempatan bagi penyelenggara TV analog eksisting seperti TVRI, 5 TV swasta eksisting dan 5 penyelenggara TV baru untuk berubah menjadi TV digital di kemudian hari akan tertutup karena kanal frekuensinya sudah habis. Dapat dibayangkan penyelenggara TV analog ini akan mengalami kebangkrutan di masa yang akan datang karena tidak bisa bersaing dengan penyelenggara TV digital. Selain itu jika dilihat dari sudut pandang ekonomi, hal tersebut merupakan "inefisiensi pembangunan" besar-besaran, mengingat investasi untuk industri penyiaran luar biasa besar dan mahal. Masyarakat akan "terpaksa" membeli pesawat penerima TV digital selain pesawat penerima TV analog yang telah ada untuk dapat menerima seluruh program penyiaran baik TV digital maupun TV analog tanpa persiapan yang cukup. Hal-hal tersebut dipandang dari sudut ekonomi dan pembangunan nasional sangat merugikan ekonomi nasional secara keseluruhan, di saat bangsa ini harus membangun di bidang lain yang lebih tinggi prioritasnya, tetapi dana dihabiskan untuk investasi pembangunan TV digital yang tidak efisien dan tidak bijaksana.

Minggu, 10 Agustus 2008

ptk

Teknologi 3, 5 G
3,5G atau dikenal juga sebagai super 3G merupakan peningkatan dari teknologi 3G, terutama dalam peningkatan kecepatan transfer data yang lebih dari teknologi 3G (>2Mbps) sehingga dapat melayani komunikasi multimedia seperti akses internet dan bertukar data video (video sharing).
Teknologi ini merupakan penyempurnaan teknologi sebelumnya dengan menutupi semua keterbatasan 3G. Contohnya layanan panggilan video 3,5G mengalami penyempurnaan dengan meniadakan penundaan suara maupun penundaan pada tayangan wajah lawan bicara di layar ponsel (yang sering terjadi pada 3G), sehingga melakukan panggilan video (video call) melalui jaringan 3,5G jauh lebih terkesan hidup.
Teknologi 3,5G
Teknologi 3,5G ini merupakan teknologi transmisi data pita lebar yang dapat digunakan secara berpindah-pindah (mobile broadband) yang berbasis HSDPA (High-Speed Downlink Packet Access). Teknologi ini mampu mengirimkan data awal (initial data transmission speed) dengan kecepatan hampir sepuluh kali lipat dari kecepatan teknologi 3G. Teknologi 3,5G berbasis HSDPA dikembangkan dari W-CDMA (Wideband CDMA) dan memberikan jalur evolusi untuk jaringan Universal Mobile Telecommunications System (UMTS). Dikatakan demikian, karena melalui HSDPA terbentuklah saluran W-CDMA yang baru, yaitu high-speed downlink shared channel (HS-DSCH) yang hanya digunakan untuk transmisi beragam informasi arah bawah menuju ponsel.
Beberapa penggunaan teknologi 3,5 G
1. HSDPA (High Speed Downlink Packet Access). HSDPA merupakan Evolusi WCDMA dari Ericsson dimana teknologi ini merupakan protokol tambahan pada sistem WCDMA (wideband CDMA) yang mampu mentransmisikan data berkecepatan tinggi.

2. WiBro(Wireless Broadband). WiBro merupakan bagian dari kebijakan bidang teknologi informasi Korea Selatan yang dikenal dengan kebijakan 839. WinBro mampu mengirimkan data dengan kecepatan hingga 50 Mbps
Spesifikasi
Platform Kecepatan
GPRS
max 115 Kbps
EDGE
max 236 Kbps
3G max 384 Kbps
HSDPA (3,5G) max 3.6 Mbps
Aplikasi
Teknologi 3,5G ini memungkinkan penggunanya untuk mengunduh beragam sajian multimedia, seperti streaming video, streaming musik, mobile TV, permainan daring (online game) , cuplikan film, animasi, video klip, permainan, video klip olahraga, berita keuangan, memainkan kumpulan lagu secara penuh, dan unduh karaoke dengan kecepatan tinggi. Seluruhnya dapat dilakukan sambil tetap melakukan telepon video dengan tanpa mengganggu proses transfer data.
Kegunaan lain teknologi 3,5G yang paling sering dimanfaatkan saat ini adalah menjadi internet broadband HSDPA. Dengan teknologi ini, kita dapat mengakses data/internet dengan lebih cepat.
Keunggulan
Berbekal bandwith hingga 3,6 megabit per detik (mbps), kehadiran HSDPA dari jalur teknologi 3,5G ini meninggalkan pendahulunya yaitu GPRS hingga 3G. GPRS hanya sanggup membawa data hingga 50 kilobit per detik (kbps). Penerusnya EDGE yang juga dikenal dengan 2,75G hanya mampu sampai di 150 kilobit per detik (kbps). Sedangkan WCDMA alias 3G baru bisa mengusung data secepat 384 kilo bit per detik (kbps). Teknologi 3.5G mobile internet access menawarkan berbagai keuntungan untuk kalangan bisnis maupun perorangan. Keunggulan utama yaitu dengan kecepatan super tinggi hingga 3.6 Mbps menggunakan tehnologi High Speed Downlink Package Access (HSDPA) memperlihatkan bahwa teknologi 3.5G sangat superior dibandingkan dengan teknologi generasi sebelumnya.
3,5G Sebagai Internet Broadband
Operator-operator seluler di Indonesia yang sekarang telah menggunakan teknologi ini adalah Telkomsel, Indosat, dan XL. Kebanyakan dari operator tersebut menggunakan teknologi ini lebih difokuskan kepada penyediaan internet broadband 3,5G atau internet broadband yang berkecepatan tinggi. Jangkauan layanan 3,5G dari beberapa operator seluler di Indonesia:
XL :Jabodetabek, Surabaya, Bali
Indosat :Jabodetabek, Surabaya, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Denpasar, Medan, dll
Telkomsel :Jakarta
Para operator meyediakan paket internet broadband cepat yang mengacu pada besarnya kuota kemampuan unduh yang akan digunakan oleh pelanggan. Paket-paket yang diberikan oleh ketiga operator ini rata-rata sama yaitu paket 500MB, paket 1GB, Paket 2GB, dan yang lainnya. Yang membedakan antara operator satu dengan yang lainnya biasanya hanya di harga.


Daftar pustaka
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

ptk

Perbedaan Tekhnologi Digital dan Analog

1. Teknologi Digital
Digital berasal dari kata digit yang berarti angka. Mengapa dinamakan digital, karena memang semua yang berhubungan dengan digital selalu berhubungkan dengan angka, yaitu 1 dan 0.
Teknologi digital adalah proses pengiriman data dalam bentuk dua symbol, yaitu on dan off. Di gital identik dengan stop kontak. Dengan menggunakan digital ini, informasi yang dilewatkan merupakan perpaduan denyutan listrik yang merupakan denyutan listrik yang terdiri dari on dan off. Kombinasi inilah yang diterjemahkan menjadi data.
Teknologi digital umumnya digunakan pada teknologi maju, seperti pada computer ataupun kamera digital. Teknologi digital saat ini sangat banyak dipakai oleh kalngan masyarakat luas. Teknologi digital merambah berbagai rancangan teknologi yang diterapkan dan digunakan oleh manusia. Bahkan saat ini hampir semua film-film dibuat menggunakan teknologi digital.
Didalam teknologi digital terdapat istilah sinyal digital. Sinyal tersebut disebut bit. Sinyal digital merupakan hasil teknologi yang menjadi kombinasi urutan bilangan 0 dan 1 untuk proses informasi yang mudah cepat dan akurat. Sinyal digital memiliki berbagai keistimewaan yang unik yang tidak dapat ditemukan pada teknologi analog, yaitu:

a. Mampu mengirimkan informasi dengan kecepatan cahaya, yang membuat informasi dapat dikirim dengan kecepatan tinggi.
b. Penggunaan yang berulang-ulang terhadap informasi tidak mempengaruhi kualitas dan kuantitatif informasi itu sendiri.
c. Informasi dapat dengan mudah diproses dan dimodifikasi dalam berbagai bentuk.
d. Dapat memproses informasi dalam jumlah yang sangat besar dan mengirimnya secara interaktif.

Didalam teknologi digital terdapat istilah rangkaian digital. Rangkaian digital berbeda dengan rangkaian biasa (analog). Dalam rangkaian digital, ada yang dinamakan gate atau gerbang. Jika melalui rangkaian didapat hasil, maka bukan besar tegangannya yang dihitung atau dinilai oleh rangkaian digital, namun ada atau tidaknya tegangan yang dihasilkan.
Oleh sebab itu,dalam rangkaian digital hanya ada dua kondisi saja yaitu on dan off. On diwakili dengan angka 1 dan off diwakili dengan angka nol. Gate sendiri ada berapa jenisnya dan setiap jenis gate memiliki hasil yang berbeda-beda. Meskipun berbeda-beda hasilnya, selalu terdiri dari keadaan mati (off) yang diwakilkan dengan angka 0 atau nyala (on) yang diwakilkan dengan angka 1.
Merancang sebuah komponen digital tidak mudah. Selain ada proses penambahan IC, ICnya sendiri harus deprogram sehingga pembuatan prangkat digital memang dianggap lebih sulit. Hal inilah yang membuat perangkat digital lebih mahal dari perangkat biasa (analog). Selain itu, dalam perangkat digital selain IC biasanya melibatkan beberapa sensor yang cukup sensitive. Semakin tinggi nilai sensifitas dan daya jangkaunya, maka perangkat tersebut dapat menjadi lebih mahal. Contohnya adalah kamera digital.
Apa yang dilakukan oleh microcontroller sebenarnya sama dengan apa yang dilakukan oleh computer, namun dalam skala yang sangat kecil. Dengan dasar ini jugalah computer ini dirancang. Oleh sebab itu, semua yang ada dikomputer merupakan teknologi digital.

2. Teknologi Analog
Teknologi analog merupakan proses pengiriman sinyal dalam bentuk gelombang. Analog memanfaatkan gelombang elektromagnetik sebagai sinyal. Sinyal analog merupakan bentuk dari komunikasi elektronik yang merupakan proses pengiriman informasi pada gelombang elektro magnetic, bersifat variable dan berkelanjutan. Satu komplit gelombang dimulai dari voltase nol kemudian menuju voltase tertinggi dan turun hingga voltase terendah dan kembali ke voltase nol. Kecepatan dari gelombang ini disabut Hertz(Hz) yang diukur dalam satuan detik. Misalnya dalam satu detik, gelombang dikirim sebanyak 10, maka disebut dengan 10 Hz. Contohnya sinyal radio atau televise yang dikirim secara berkesinambungan. Pelayanan dengan menggunakan sinyal ini agak lambat dan mudah mendapat eror dibandingkan data dalam bentuk digital.
Gelombang analog ini disebut baud. Baud adalah sinyal atau gelombang listrik analog. Satu gelombang analog sama dengan satu baud.


























Daftar Pustaka


www.teknik digital.com

www.teknik analog.com

www.total.or.id/info.php?kk=analog

www.total.or.id/info.php?kk=digital

tgs ptk

PENGGUNAAN INTERNET SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI
Mata kuliah : Perkembamgan Teknologi Komunikasi

Disusun oleh:

Frederikus Fandriano Sardima
153060184
Frederikus-fandri.blogspot.com
JURUSAN ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS ILMU SOSISL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
YOGYAKARTA
2008


PENGGUNAAN MEDIA INTERNET SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI

A.Pendahuluan

Internet adalah kumpulan komputer antar satu wilayah dan wilayah lainnya yang terkait dan saling berkomunikasi, dimana keterkaitan dan komunikasi ini diatur oleh protokol. Dengan kata lain, internet adalah media komunikasi yang menggunakan sambungan seperti halnya telepon, yang tentunya disambungkan dengan komputer serta modem. Namun, berbeda dengan telepon yang komunikasinya harus dilakukan dengan oral dan dilaksanakan secara bersamaan atau simultan, maka pada internet komunikasi yang dilakukan umumnya tertulis tanpa perlu dilakukan secara bersamaan antara pengirim dan penerima berita tersebut.
Internet telah mengubah wajah komunikasi dunia yang sejak lama didominasi oleh perangkat digital non-komputer, seperti: telegram, telepon, fax, dan PBAX, menjadi komunikasi komputer yang global. Dengan internet, maka di mana pun kita berada dapat berhubungan satu sama lainnya dengan perangkat komputer tanpa dibatasi lagi oleh ruang dan waktu. Hal inilah yang mensyaratkan adanya sambungan kabel telepon.
Di era gobalisasi seperti sekarang ini banyak sekali kita melihat perubahan – perubahan yang terjadi di dunia baik dari segi politik, ekonomi, social budaya dan yang paling sering terjadi adalah perubahan dari segi IPTEK. Salah satu perkembangan IPTEKyang terjadi di dalam media komunikasi adalah internetm, media ini bisa membantu masyarakat dalam mencari hal – hal baru yang sulit untuk dijangkau dibandigkan media lain.
Pada awalnya Internet merupakan jaringan komputer yang dibentuk oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat di tahun 1969, melalui proyek ARPA yang disebut ARPANET (Advanced Research Project Agency Network), di mana mereka mendemonstrasikan bagaimana dengan hardware dan software komputer yang berbasis UNIX, kita bisa melakukan komunikasi dalam jarak yang tidak terhingga melalui saluran telepon. Proyek ARPANET merancang bentuk jaringan, kehandalan, seberapa besar informasi dapat dipindahkan, dan akhirnya semua standar yang mereka tentukan menjadi cikal bakal pembangunan protokol baru yang sekarang dikenal sebagai TCP/IP (Transmission Control Protocol/Internet Protocol).
Tujuan awal dibangunnya proyek itu adalah untuk keperluan militer. Pada saat itu Departemen Pertahanan Amerika Serikat (US Department of Defense) membuat sistem jaringan komputer yang tersebar dengan menghubungkan komputer di daerah-daerah vital untuk mengatasi masalah bila terjadi serangan nuklir dan untuk menghindari terjadinya informasi terpusat, yang apabila terjadi perang dapat mudah dihancurkan.
Pada mulanya ARPANET hanya menghubungkan 3 situs saja yaitu Stanford Research Institute, University of California, Santa Barbara, University of Utah, di mana mereka membentuk satu jaringan terpadu di tahun 1969, dan secara umum ARPANET diperkenalkan pada bulan Oktober 1972. Tidak lama kemudian proyek ini berkembang pesat di seluruh daerah, dan semua universitas di negara tersebut ingin bergabung, sehingga membuat ARPANET kesulitan untuk mengaturnya.
Oleh sebab itu ARPANET dipecah manjadi dua, yaitu “MILNET” untuk keperluan militer dan “ARPANET” baru yang lebih kecil untuk keperluan non-militer seperti, universitas-universitas. Gabungan kedua jaringan akhirnya dikenal dengan nama DARPA Internet, yang kemudian disederhanakan menjadi Internet.
Sekarang ini internet sangat menjamur di masyarakat baik dari anak – anak sampai kepada orang tua dapat mengakses internet dengan mudah. Hal ini sangat baik bagi kemajuan Negara karena dapat membentuk generasi yang memiliki kemampuan atau potensi yang tinggi dalam dunia persaingan kerja dengan negara – negara berkembang lainnya. Sekarang internet sudah sangat berkembang dalam hal tujuan penggunaannya. Kalau dulu digunakan sebagai proyek pertahanan tapi sekarang banyak yang menggunakan internet sebagai media pembelajaran, media informasi, dan juga berkembang sebagai media hiburan.
Dari penulis, dosen,guru, ilmuwan, mahasiswa, bisnisman, musisi, dan banyak lagi mulai menggunakan media internet sebagai media untuk bertukar, berbagi dan mencari informasi. Banyak sekali ragam tulisan yang sudah di upload(unggah) dengan menggunakan media ini. Sehingga jika kita ingin tahu informasi tidak hanya dari seorang guru yang kita kenal saja. Tetapi bisa saja kita berguru kepada orang yang belum bahkan tidak kita kenal sama sekali. Melalui tulisan dari orang yang mengunggah filenya yang tidak hanya satu orang di internet itulah kita bisa belajar lebih banyak dari pada guru yang ada di sekolah kita. Jadi bisa saya katakan “sang guru” itu adalah internet.
Penggunaan media internet sebagai media komunikasi sangat efektive dan efisien. Pemakainan internet sebagai information and communication technologi (ICT) dalam beberapa tahun terakhir menjadi bahasan yang paling popular. Hal ini disebabkan oleh meluasnya penggunaan ITC dalam bidang pertahanan, pemerintahan, perdagangan, pendidikan, komunikasi dan sebagainya. Kecepatan, kemudahan, akurasi, menjadi cirri penerapan ICT. Dari beberapa teknologi ITC yang ada penggunaan teknologi internet adalah yang paling banyak digunakan. Dalam berkomunikasi, pemanfaatan teknologi internet selain memudahkan dan menyebarkan informasi teknologi internet juga dapat meningkatkan efisiensi dan kemampuan organisasi, mempercepat pengolahan data, meningkatkan kualitas informasi, memungkinkan pemanfaatan bersama informasi (data sharing). Situs web (website) dan electronic mail merupakan layanan internet yang paling populer. Saat ini berbagai macam situs web telah membanjiri dunia internet. Mulai dari situs yang bersifat pribadi (blogger) maupun sifatnya institusional (official web).
Banyak hal positif yang dapat kita ambil kegiatan berkomunikasi melalui internet, namun banyak pula resiko dari penggunaan internet sebagai media komunikasi. Hal ini menjadi pokok masalah dalam pembahasan ini.

B. Pembahasan

Akhir-akhir ini banyak orang menggunakan internet sebagai media komunikasi, selain harga yang murah per bytenya, aksesnya pun lebih cepat. Sebagai contoh media komunikasi seperti e-mail (yahoo, gmail, Plasa dll), Friendster, Life conector dll. Ada pula penyedia pengiriman pesan yang instan seperti camfrog, pidgin, (gaim), trilian, kopete, yahoo! Messenger, MSN Messenger dan windows live messengger Dan tentunya kita harus memiliki acount di masing-masing web penyedia tersebut.
Dunia internet yang sejak tahun 1993 dibuka untuk umum, merupakan ruang baru yang dapat dimanfaatkan manusia tidak hanya dapat berkomunikasi satu sama lain, tetapi juga dapat mencari informasi, data atau program di memori komputer. Sementara didunia nyata juga dikenal tempat informasi adalah perpustakaan, internet dapat disebut sebuah perpustakaan yang besar yang terdiri dari buku ukuran raksasa yang bernama world wide web atau disingkat www dan dikenal dengan sebutan WEB. WEB terdiri dari berjuta-juta halaman yang bertebaran diseluruh penjuru dunia, tetapi saling berkait satu sama lain melalui apa yang disebut hyperlink, yaitu tulisan atau gambar yang ada disetiap halaman, yang mengacu kehalaman-halaman web lainnya.
Pengguna internet lebih memilih internet sebagai media komunikasi tentunya untuk saling bertukar pikiran dan berbagi informasi. karena internet tidak membatasi penggunanya dalam hal jarak, kita dapat mengakses internet sampai ke belahan dunia manapun. Dalam penggunaan internet kita dapat berkomunikasi dengan siapa saja yang berada dibelahan bumi yang lain.Karakter internet yang interaktif membuat penggunanya merasakan seolah mengalami komunikasi tatap muka sebagai mana didunia nyata.
Saat ini bangsa kita menempati urutan pertama dalam penyalahgunaan internet, dikhawatirkan pula penggunaan yang tidak bijaksana berpotensi untuk melakukan tindakan kejahatan ini berkaitan erat dengan pola pikir dan cara pandang remaja terhadap keberadaan internet itu sendiri, dimana hal ini acapkali dipengaruhi oleh interaksinya dengan kelompok sosial disekitarnya, terutama peer group. Griffith (1996) menyatakan bahwa tipikal pengguna internet remaja. biasanya laki-Iaki yang tidak atau sedikit memiliki rasa percaya diri dan kehidupan sosial. Oleh karena itu perlu diketahui apa dan bagaimana pola komunikasi, penerimaan serta pandangan remaja terhadap keberadaan media komunikasi inj. Ketiadaan perangkat hukum yang mengatur sekaligus ketidakpahaman masyarakat akan pola-pola pencegahan penyalahgunaan internet serta karakteristik internet sebagai borderless communication media merupakan penyebab klaim internet sebagai media yang lebih banyak merugikan daripada memberikan manfaat.
Perkembangan dunia maya atau internet (inter-network) sekarang semakin berkembang, banyak pemuda, pelajar, pebisnis, presiden, bahkan parlemen-parlemen di pemerintahan sebuah Negara mengatur pemerintahannya melalui jalur internet.
Jumlah pengguna yang mencapai ratusan juta pengguna membuat internet menjadi budaya di berbagai Negara. Sebagai contoh Negara korea yang sebagian besar pelajarnya menggunakan internet sebagai media untuk bermain game, bahkan di laporkan memakan korbanjiwa
Pengaruh internet sangat besar, terutama terhadap ilmu pengetahuan dan pandangan manusia terhadap dunia. Dibandingkan buku yang ada di perpustakaan, internet lebih melambangkan penyebaran (decentralization) dan pengetahuan (knowledge) informasi dan data yang akurat secara ekstrim.
Selain dalam bidang ilmu pengetahuan, internet juga berpengaruh terhadap perekonomian. Transaksi jual beli yang biasanya di lakukan melalui tatap muka (sebagian kecil melalui pos) kini dengan mudahnya dapat di akses melalui internet. Transaksi ini di sebut e-commerce. Terkait dengan pemerintahan, Internet juga memicu tumbuhnya transparansi pelaksanaan pemerintahan melalui e-government. Agar warga dan masyarakat dapat mengetahui tentang keadaan pemerintahan negaranya
Internet kini benar-benar telah menjadi animo masyarakat dunia, bahkan ada pepatah anak muda mengaintakan “gak gaul kalo u ga tau internet” padahal internet itu sendiri memberikan berbagai efek yang mungkin kita tidak sadari. Sebagai contoh anak di bawah umur yang mengerti internet mengakses situs-situs porno, itu akan memberikan efek merusak moral anak bangsa kita.
Namun bila kita telususri dalam internet memberikan banyak manfaat untuk kita, contohnya sebagai media pencari informasi, media referensi pelajaran dll. Karena sekarang banyak sekali mesin pencari informasi (search engine) untuk mempermudah kita dalam menggunakan internet dan mencari informasi yang kita inginkan.
Perkembangan teknologi internet yang semakin menyentuh semua aspek kehidupan ini, kehadirannya harus disikapi dengan positif. Karena siapapun yang berinteraksi dengannya akan mendapatkan informasi dalam jumlah dan jenis yang tak terhingga dalam waktu yang singkat dan cepat. Sebagaimana diketahui bersama saat ini informasi menjadi kebutuhan hidup manusia. Bahkan karena pentingnya arti informasi tersebut Bill Gates (CEO Microsoft Corp) menyatakan "Information is the Power" yang menggambarkan kekuatan, keunggulan dan manfaat teknologi informasi. Teknologi informasi merupakan faktor penentu keunggulan dalam era persaingan bebas melalui kecepatan pelayanan kepada masyarakat, ketepatan pengambilan kebijakan dan keputusan, efektifitas dan efisiensi kerja. Hal ini dapat pula diartikan bahwa siapa saja yang memiliki informasi maka dialah pemenangnya.
Sejalan dengan kemajuan teknologi informasi tersebut, pemerintah pada dasarnya telah berusaha mewujudkan masyarakat Indonesia yang mampu menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas hidupnya. Salah satunya adalah kebijakan dalam bidang pendidikan, yaitu dengan memasukan mata pelajaran telnologi informasi dan computer kedalam kurikulum nasional. Kondisi ini didukung juga oleh suatu komitmen yang sudah ditanda tangani Indonesia dalam word summit of information society (WSIS) 2004, yang salh satu butir kesepakatanya adalah komitmen bahwa tahun 2015, paling tidak 50 persen dari populasi penduduk harus dapat memanfaatkan teknologi informasi seperti internet dan sebagainya.(Drs.Aulia Reza Bastian, M.Hum. Kedaulatan Rakyat, 3 Maret 2005.
Melihat kondisi objektif di daerah-daerah, penggunaan teknologi internet dalam bidang pendidikan, khususnya dalam hal pengajaran nampaknya masih belum optimal. Hal ini berdasarkan pada realita yang menunjukkan minimnya minat para pengelola atau institusi pendidikan, pengajar dan peserta didik untuk membuka dan menggunakan internet sebagai media mengembangkan materi pelajaran dan pelayanan akademik. Walaupun dibeberapa institusi penyelenggara pendidikan di daerah telah memiliki sarana Hardware pendukung yang cukup memadai dan telah mampu membangun website sendiri, namum secara umum penggunaannya masih sebatas pengelolaan untuk informasi intern.
Di era informasi ini, masyarakat kita boleh berbangga diri karena telah memasuki "Era Digital" yang dibuktikan dengan adanya penggunaan aplikasi-aplikasi berbasis komputer dan teknologi informasi di intansi-intansi pemerintahan dan sekolah-sekolah. Terlihat pula dengan adanya kegiatan pelayanan informasi di Pemerintah Daerah yang menerapkan konsep E-Government. Dalam hal ini Pemerintah Daerah telah banyak yang membangun dan menggunakan situs Pemda sebagai media komunikasi dan informasi terhadap masyarakat daerahnya. Walaupun hal ini belum sepenuhnya terjadi diseluruh daerah di Indonesia.
Selain berfungsi sebagai media komunikasi internet juga memiliki beberapa kegunaan menurut Quartenan dan Mitchel :

1. Internet sebagai media komunikasi, merupakan fungsi internet yang paling banyak digunakan dimana setiap pengguna internet dapat berkomunikasi dengan pengguna lainnya dari seluruh dunia.
2. Media pertukaran data, dengan menggunakan email, newsgroup, ftp dan www (world wide web – jaringan situs-situs web) para pengguna internet di seluruh dunia dapat saling bertukar informasi dengan cepat dan murah.
3. Media untuk mencari informasi atau data, perkembangan internet yang pesat, menjadikan www sebagai salah satu sumber informasi yang penting dan akurat.
4. Fungsi komunitas, internet membentuk masyarakat baru yang beranggotakan para pengguna internet dari seluruh dunia. Dalam komunitas ini pengguna internet dapat berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, melakukan transaksi bisnis, dan sebagainya. Karena sifat internet yang mirip dengan dunia kita sehari-hari, maka internet sering disebut sebagai cyberspace atau virtual world (dunia maya).

C. Kesimpulan
Selain itu ada banyak kendala yang dihadapi oleh para pengguna internet kususnya kalangan mahasiswa. Pada umumnya, para pengguna internet menggunakan internet yang tersedia di warung-warung internet atau yang lebih dikenal dengan istilah ‘warnet’. Hal ini karena biayanya lebih murah dibandingkan dengan menggunakan internet pribadi. Perlu diketahui bahwa mahasiswa belum bekerja, dan masih bergantung dari dana yang diberikan oleh orang tua mereka. Keadaan ini merupakan salah satu penyebab dimana mereka akan menggunakan komputer yang terhubung dengan internet. Pada umumnya, biaya menggunakan internet adalah sebesar tiga ribu lima ratus rupiah per jam. Tentu saja, biaya ini relatif mahal karena mahasiswa yang masih banyak tergantung dari dana yang diberikan orang tua perhari atau per mingu atau per bulan. Maka, komunikasi para mahasiswa lewat internet menjadi terbatas oleh biaya. Walapun saat ini banyak tempat yang menawarkan area hot spot atau akses internet gratis tetapi belum menjamin akses internet dengan lancar.
Dari pengamatan yan gmendalam ini, bisa diketahui bahwa semakin lama penggunaan internet semakin penting sebagai sarana komunikasi. Fasilitas internet seperti email, www dan YM/IRC sudah sangat popular di antara para pengguna internet baik sebagai sarana komunikasi maupun alat untuk mencari data untuk penelitian lain juga sebagai alat untuk memperluas pergaulan dan perkenalan antar pengguna internet. Selain itu, penggunaan internet telah menimbulkan adanya bahasa baru yang dikenal sebagai ‘bahasa internet’. Memang, bahasa yang dipakai dengan menggunakan internet tergantung pada siapa dan dengan siapa pengguna internet berkomunikasi. Tetapi, walaupun ada banyak manfaat penggunaan internet, juga ada dampak yang negatif bagi pengguna internet. Misalnya, pornografi dan SPAM sudah menjadi masalah besar. Sampai saat ini belum ada cara yang efektif untuk menghindar dari dampak negatif tersebut. Akan tetapi, karena dampak yang positif juga banyak, maka mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus menggunakan internet sebagai sarana komunikasi yang tercepat dan tercanggih untuk saat ini. Sebagai sarana komunikasi, saya yakin bahwa di masa depan penggunaan internet akan menjadi lebih luas dan berkomunikasi lewat internet itu akan menjadi sepopular penggunaan telpon.




Daftar Pustaka

Penulis : Bukhori Sulistyanto, S.Kom Dosen Teknik Informatika PoliteknikSawunggalih Aji (Polsa)
(Drs.Aulia Reza Bastian, M.Hum. Kedaulatan Rakyat, 3 Maret 2005.
Yuyun W.I. Surya, Library@lib.unair.ac.id
Libunair@indo.net.id
http://www.cert.or.id/~budi/articles/BPPT-computer-literacy-2.doc.
Budi Rahardjo, “Pergolakan Informasi di Indonesia akan sia-sia?”, Koran Tempo, 2001. (To be publish.)
http://forum-pembaca-kompas.blogspot.com/

Jumat, 08 Agustus 2008

komunikasi kontenporer

BIAS GENDER DALAM IKLAN MEDIA CETAK MAUPUN ELEKRONIK

KEY WORDS : GENDER DAN IKLAN

A. Pendahuluan

Wacana mengenai gender memang bukan menjadi wacana umum dalam masyarakat. Bahasan ini hanya menjadi kajian kaum intelektual-intelektual maupun kriktikus dari ilmuwan social baik sosiologi, antropologi, ilmu komunikasi, dan beberapa cabang ilmu social lainnya. Pengungkapan masalah perempuan dengan menggunakan prespektif gender sering mengalami polemic pro dan kontra tidak hanya oleh laki-laki saja tetapi oleh kaum perempuan juga. Banyak pihak menyatakan bahwa persoalan kesetaraan gender menyudutkan kaum laki-laki.

Beberapa pendapat masyarakat menyatakan bahwa hal ini merupakan serangan dan penjajahan atas peran dan kedudukan laki-laki yang selama ini selalu kuat. Padahal pemahaman wacana gender bukan sesempit itu. Kesetaraan gender memiliki dafenisi yang jamak, tergantung setiap individu yang memaknainya sesuai tujuan dan kasusnya. Kesetaraan bukanlah menggambil posisi suami sebagai kepala rumah tangga, kesetaraan juga bukan memposisikan perempuan berada diatas laki-laki. Kesetaran bukan berarti pengalihan peran pria oleh wanita, tetapi kesetaran gender mengupas hak perempuan sebagai manusia yang sederajat dengan laki-laki.

Gender adalah buatan manusia. Maka gender adalah penyimpangan dari kodrat. Gender pada umumnya selalu memaksa apa yang bukan menjadi kodrat menjadi kodrat. Pada masyarakat patriarkhi manusia memperlakukan perempuan lebih rendah dari laki-laki.

Pengertian dari gender sendiri adalah pengkotakan peran yang dilakukan oleh suatu masyarakat terhadap kelompok laki-laki dan perempuan sebagai sesuatu yang hang diharuskan oleh masyarakat tersebut. Karena itu pemahaman tentang gender dalam masyarakat antar satu generasi kegenerasi yang lain dalam masyarakat yang sama bisa jadi berbeda. Perbedaan gender tidak menjadi masalah sepanjang tidak menjadi perdebatan dalam masyarakat, meninbulkan ketidakadilan, kekerasan dan penindasan.

Namun dalam sejarah justru perbedaan gender ini justru menjadi pangkal dari ketidakadilan, penindasan, diskriminasi, kekerasan pada kelompok perempuan. Kekerasan gender terus terjadi sampai saat ini, media bahkan salah satu yang melanggengkan kekerasan gender, walaupun saat ini kekerasan tidak terjadi langsung secara fisik tetapi biasa pemberitaan media ini dapat secara langsung menjadi pangkal dari ketidakadilan, penindasan, dan diskriminasi kepada pihak perempuan.

Menurut Wood (2005), menyebutkan bahwa melalui pemberitaan media membangun stereotip dan labeling pada peran laki-laki dan perempuan baik dalam bentuk iklan layanan masyarakat, film, ataupun sinetron yang ditayangin televisi. Media cendrung mempublikasikan laki-laki sebagai manusia yang kuat, tegar, perkasa, penuh percaya diri, agresif, berkuasa, pemberani, tangguh, bila laki-laki berprilaku feminisme dianggap melanggar kodratnya. sementara perempuan cendrung digambarkan sebagai sosok yang seksi, genit, penggoda, lemah lembut, pemuas nafsu pria dan tugasnya melayani pria, perempuan dilarang untuk berprilaku agresif karena itu melanggar kodratnya.

Gender sesungguhnya adalah pembiasan kodrat laki-laki dan perempuan. Pemahaman tentang gender dinegara kita masih bersifat patriarkhi dimana pihak perempuan sangat dirugikan. Masyarakat kita sudah membedakan perempuan dan laki-laki sejak lahir. Perempuan dituntut lemah lembut dan gemulai, sehingga kita menganggap bahwa perempuan yang tidak lemah lembut dan gemulai melawan kodratnya sebagai perempuan. Pendapat inilah yang membuat kita sadar bahwa gender itu adalah kodrat. Padahal gender bukanlah kodrat. Gender berlawanan dengan kodrat.

Realitas media di Indonesia menunjukan adanya bias gender.dalam pemberitaan perempuan dalam media baik cetak maupun elektronik.berbagai bentuk ketidak adilan gender seperti label negative, beban kerja, marjinalisasi. Tanpa disadari perempuan kita cendrung dijadikan obyek oleh medianya sendiri. Media mengirim perempuan menjadi sasaran kaum kapitalis. Pemasaran perempuan merupakan potensi kekerasan dan sosialisasi keyakinan gender.

Sebagai contoh, media secara langsung telah memberi label negatif pada perempuan hitam, pendek dan berambut keriting. Perempuan seperti itu “layak” disebut sebagai perempuan jelek. Perempuan cantik adalah perempuan berkulit putih, tinggi, langsing, berambut lurus. Demi mendapatkan label cantik, perempuan berlomba-lomba menggunakan berbagai macam produk kecantikan agar kulitnya putih. Perempuan juga diwajibkan mengonsumsi pil/tablet agar senantiasa langsing. Jika setelah melahirkan dan bertubuh gembrot, buru-burulah mengikuti terapi di rumah kecantikan agar tubuh yang melar kembali seperti semula. Atau, perempuan agar terlihat selalu rapi, harus menggunakan shampo dan konditioner, merawat rambut dengan masker rambut, toning dsb.

Kondisi seperti ini tentu saja membuat perempuan tidak rasional. Perempuan berkulit sawo matang (bahkan berwarna sangat gelap), berusaha mendapatkan citra perempuan cantik. dengan menggunakan berbagai produk pemutih. Mereka tak segan mengeluarkan uang ratusan hingga jutaan rupiah hanya demi mendapatkan label cantik. Bahkan mereka tak peduli dengan risiko yang bisa mereka terima jika menggunakan produk yang tidak diketahui komposisinya. Bahkan, mereka rela “berkulit belang”, lebih terang di bagian wajah dan gelap di kulit tubuh. Apakah perempuan hitam, pendek dan gendut tidak cantik? Tentu tidak.

Benar kata Rhenald Kasali. Perempuan, baik remaja maupun dewasa adalah pasar yang potensial. Itu dikarenakan remaja perempuan cenderung senang jalan-jalan ke pusat perbelanjaan dan perempuan dewasa “bertugas” mengambil keputusan terhadap apa yang harus dibeli untuk keperluan rumah tangganya, termasuk kebutuhan suami seperti pisau cukur atau deodoran.

Perempuan sesungguhnya tak memiliki kesempatan yang memadai untuk memilih. Mereka melahap apa saja yang diketahui. Bahkan, keinginan lebih mendominir ketimbang kebutuhan. Mereka dibentuk sedemikian rupa oleh media, menjadi perempuan masa kini dengan segala macam bentuk gaya hidup, yang didorong oleh kebutuhan pengiklan.

Sebenarnya bukan hanya media saja yang melanggengkan ketidakadilan gender dinegara kita. Tetapi hampir semua sistim yang ada di Negara ini melanggengkannya. Dimulai dari keluarga, lingkungan pendidikan, pemerintahan semuanya melakukan ketidakadilan gender.Selain itu pendidikan akan memperlambat waktu atau sedikit menunda kaum perempuan untuk menikah. Pendidikan juga akan meningkatkan efisiensi kontrasepsi perfempuan dan akan meningkatkan kontrol perempuan terhadap fertilitas.

Harus diakui bahwa keluarga merupakan unit terkecil masyarakat dan merupakan pengayom kehidupan dan mempunyai fungsi keagamaan, kebudayaan , perlindungan, pembinaan reproduksi, dan cinta kasih. Keluarga juga merupakan wadah pembentukan karakter, tingkah laku serta sikap yang perlu dimiliki oleh seorang anak, baik laki-laki maupun perempuan dan keluarga yang juga mengajarkan dan menentukan peran gender antara anak laki-laki dan perempuan.

Keluarga berperan penting di dalam pembentukan watak dan pembagian peran yang tidak bias gender antara anak laki-laki dan perempuan serta pentingnya kedudukan dan peran yang sejajar antara suami dan isteri di dalam pengambilan keputusan.

Di bidang hukum masih dijumpai substansi, struktur, aparatur dan budaya hukum yang masih diskriminatif dan bias gender. Masalah hak asasi manusia yang menuntut perhatian khusus, masih maraknya kasus-kasus eksploitasi, pelecehan, tindak kekerasan baik seksual maupun fisikal terhadap perempuan di dalam rumah tangga, masyarakat, dan di tempat kerja, maraknya perdagangan perempuan dan anak di dalam maupun ke luar negeri.

Untungnya Undang-Undang No 23/2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) telah lahir, sehingga diharapkan masyarakat yang mendapatkan pelakuan kekerasan, khususnya dalam rumah tangga, baik laki-laki maupun perempuan dalam terlindungi melalui UU tersebut.

Gender juga merupakan suatu proses politik dimana untuk mencapai suatu keadilan dan kesetaraan gender membutukan cara berpikir yang baru dengan melakukan dekonstruksi secara filosofis mengenai stereotip perempuan dan laki-laki serta perlunya penghargaan kepada semua manusia tanpa memandang jenis kelamin sosial atau gender.

Dengan demikian paradigma pembangunan manusia yang meletakkan manusia sebagai pusat perhatian harus sepenuhnya berwawasan gender. Setiap upaya tersebut paling tidak memerlukan tiga prinsip.

Pertama kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki harus diabadikan sebagai prinsip fundamental. Hambatan secara hukum, ekonomi, dan politik harus diidentifikasi dan dihapuskan melalui reformasi kebijakan yang menyeluruh dan affirmative action yang kuat.

Kedua, perempuan harus diakui sebagai agen dan pewaris perubahan. Investasi untuk memampukan dan memberdayakan perempuan untuk membuat pilihan-pilihan tidak hanya bermanfaat bagi perempuan itru sendiri, melainkan juga merupakan cara paling efektif untuk memberikan sumbangan nyata bagi pembangunan secara keseluruhan.

Ketiga, model pembangunan baru berperspektif gender meski bertujuan untuk memperluas pilihan-pilihan perempuan dan laki-laki tidak boleh menganggap perbedaan budaya dan masyarakat sebagai sesuatu yang bersifat kodrat.

Akan tetapi saat ini sebagian besar ketidakadilan gender ini paling mudah kita kita liat di media massa. Media massa kita secara sadar dan tidak sadar mengekspos biasa gender secara luas tanpa memperhatikan efek pemberitaannya.

Media cendrung menggunakan periklanan sebagai bentuk arena contoh pemojokan posisi perempuan. Periklanan sendiri sering memunculkan kode-kode social sebagai fregmentasi realitas social, tanda-tanda ini tak jarang memojokan perempuan, menganut pola gender yang ada dalam masyarakat kita. Akan tetapi, apakah periklanan telah menjadi tempat pemojokan posisi perempuan? Ataukah para pembuat iklan yang dituding sebagai penyebab munculnya fenomena social yang menyiratkan perempuan diposisikan pada posisi yang subordinate? Tentulah ini menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai manusia yang mempunyai norma, etika, serta prilaku social yang mempunyai cirri budaya ketimuran yang dapat menata serta mengatur konsep gender yang yang dapat mengangkat harkat dan martabat perempuan di Indonesia.

B.Kerangka Teori

Tujuan penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui representasi kesetaraan gender (pria dan wanita). (2)mengetahui bias gender pada iklan dimedia massa (3) serta untuk mengetahui peran-peran dominan yang dikonstruksikan pada pria dan wanita dalam iklan tersebut. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis isi dengan menggunakan pendekatan semiotic untuk menggambarkan interpretasi khalayak tentang iklan yang berkaitan dengan bias gender di media massa.

Semiotic sendiri berarti komunikasi sebagai pertukaran makna melalui tanda-tanda. Kekuatan semiotic bertupu pada kebutuhan akan gagasan yang sama, identifikasi akan subjektifitas yang menjadi kendala untuk mencapai pemahaman dan keterikatan dengan makna yang seragam. Istilah semiotic sendiri dapat pula diartikan sebagai tanda, yakni sesuatu atas dasr konvensi social yang dibangun sebelumnya dan dapat mewakili sesuatu yng lain. Tanda dapat dipakai sebagai prangkat yang dipakai dalam upaya mencari jalan didunia ini, ditengah manusia dan bersama manusia. Secara termonologis semiotik dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari deretan luas obyek-obyek, peristiwa-peristiwa seluruh kebudayaan sebagai tanda. Dalam kajian media massa semiotic tidak hanya dikenal sebagai teori namun juga sekaligus sebagai metode analisis.

Unit analisisnya adalah sistim tanda berupa gambar, tulisan ataupun gambar yang bergerak pada iklan produk yang menggambarkan bias gender serta menggunakan pria dan wanita sebagai modelnya selama periode 27 juli -03 Agustus 2008 terpilih beberapa iklan dari berbagai media massa yang saya teliti yaitu : iklan rokok djarum super, iklan rokok gudang garam, jamu kuat kuku bima energi dan iklan hemaviton.

C. Pembahasan

Periklanan sebagai sebuah sistem komunikasi massa, kini cenderung menjadi parameter atau implementasi wacana gender yang menggugat adanya bias-bias ketidakadilan gender. Periklanan kini dengan agak sinis dikatakan sebagai sarana pelestari dominasi ideology patriarkhis.

Media massa mempunyai kekuatan dan peran besar dalam membangun realitas. Realitas merupakan hasil karya (konstruksi) media terhadap suatu peristiwa atau fakta. Hamad (2004) menyebutkan bahwa, setiap upaya menceritakan (konseptualitas) sebuah peristiwa , keadaan atau benda tak terkecuali mengenai hal-hal yang berkaitan dengan politik adalah usaha mongkonstruksi realitas. Media menyusun realitas dari berbagai peristiwa yang terjadi sehingga menjadi cerita atau wacana yang bermakna. Realitas yang diciptakan media adalah realitas simbolik hasil produk atau rekayasa para pengelolah media
.
Masalahnya saat ini media massa telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat Indonesia. Hal ini yang membuat terpaan informasi terjadi terus-menerus pada khalayak dan menjadikan media sebagai penuntun atau pedoman dalam berprilaku. McQuail (1989) menyebutkan media berperan sebagai wahana pengembangan kebudayaan, bukan saja dalam pengertian pengambangan bentuk seni dan symbol, tetapi juga dalam pengertian pengembangan tata cara, mode, gaya hidup dan norma-norma prilaku.

Media memiliki fungsi menkonstruksi realitas dan realitas ini dikonstruksi sesuai dengan latar belakang masing-masing individu para pengelolah media. Produk media yang dihasilkan akan sesuai dengan pemahaman masalah yang mereka beritakan. Misalnya tentang gender. Jika pemahaman mereka tentang gender sarat ketidakadilan maka yang diberitakan adalah bias gender. Disini ada titik temu antara pengelolah media, bias pemberitaan media tentang gender, dan kekuatan media mengkonstruksi realitas. Hasilnya adalah audiens akansemakin dikokohkan pemahamannya tentang nilai-nilai.

Armando (2000), menunjukan bagaimana media dapat mempengaruhi persepsi manusia tentang realitas atau dengan kata lain cara pandang manusia tentang dunia. Ii terjadi dalam jangka waktu tertentu secara konsisten, ia menyajikan isi media yang menyajikan isi yang konsisten. Salah satu yang secara konsisten disajikan oleh media adalah ideology patriarkhi yang masuk dalam kebudayaan lewat bahasa atau proses simbolik lainnya.

Patriarkhi adalah relasi hirarkis antara laki-laki dan perempuan yang menempatkan laki-laki yang lebih dominan dari perempuan (Mitchel, 1994). Ideologi ini melahirkan perbedaan gender dan ketidakadilan gender yang dikonstruksi secara social maupun cultural melalui proses panjang dan sering kali dianggap sebagai ketentuan Tuhan dan seolah-olah bersifat kodrati, tidak dapat diubah lagi, sehingga sifat-sifat yang melekat pada diri laki-laki dan perempuan dianggap sebagai kodrat dan keharusan yang diperoleh sejak lahir.

Dari berbagai fenomena yang saya paparkan diatas saya ingin mencoba menelah lebih lanjut tentang bias-bias gender yang ada dalam masyarakat melalui media massa yang ada, khususnya bias-bias gender yang terjadi dalam periklanan baik pada media cetak maupun iklan yang ada dimedia audiovisual (televisi).

Dalam kehidupan bermasyarakat sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar, sengaja atupun tidak sengaja kita melihat iklan yang malakukan atau menunjukan diskriminasi gender. Media massa yang perkembangannya makin lama makin cepat menjadi kunci penting penanaman ideologi yang ada dalam masyarakat.

Produk media massa terutama yang berupa iklan mengepung kita dari berbagai penjuruh. Saluran yang paling enak dimanfaatkan adalah media masssa baik elektronik maupun media cetak. Iklan-iklan tersebut tidak hanya berusaha mempengaruhi pihak konsumen untuk menggunakan produk tersebut tetapi juga sarat akan bias gender.

Dalam penyampaian pesannya iklan selalu menyesuaikan dengan kondisi social budaya masyarakat yang menjadi sasaran produk tersebut. Kondisi masyarakat yang slalu menganggap pria lebih tinggi status sosialnya dari perempuan mau tidak mau, suka tidak suka akan membuat pihak pembuat iklan harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang berlaku dalam masyarakat apabila ingin merebut simpati mereka terhadap produk yang ditawarkan.

Komunikasi iklan pada dasarnya sama, yakni penerapan suatu bentuk komunikasi persuasi terhada produk dan jasa yang berkaitan dengan masalah pemasaran. Tujuan dasar dari kegiatan periklanan adalah mencakup kegiatan pemberian informasi tentang suatu produk dengan cara dan strategi agar pesan dapat diterima dan diingat serta adanya tindakan tertentu yang menarik perhatian konsumen yang dapat menggugah selerah, agar bertindak sesuai dengan keinginan komunikator. Komoditi iklan bukan hanya dalam bentuk penawaran tetapi juga disiapkan untuk menciptakan selera tertentu.

Kecendrungan yang muncul dalam periklanan yang dibuat tidak hanya mengiklankan suatu fungsi atau kegunaan ari suatu produk saja tetapi lebih pada kreatifitas untuk membewrikan nilai suatu produk.Menjual suatu produk tidak hanya untuk memenuhi suatu kebutuhan tetapi juga dapat dikembangkan untuk mendekatkan pada dorongan-dorongan lain, seperti nilai akan kejantanan, situasi akrab ataupun nilai-nilai kesegaran lainnya.

Dengan terbukanya penanaman sebuah citra pada suatu iklan tentu akan bersifat polisemik, karena terbukapeluang penafsiran dari konsumen lebih dari satu atau tidak sebatas menawarkan suatu kegunaan tanpa nuansa-nuansa yang lain yang memberi nilai tambah bagi dayatarik produk tersebut. Sistim polisemik mempunyai pengertian menawarkan lebih dari satu penawaran yang sah. Sifat komunikasi ini adalah wajar jika dikaitkan dengan tujuan periklanan, di mana bentuk komunikasinya berfungsi konatif, yakni bertujuan untuk membujuk komunikan mengambil tindakan tertentu, misalnya membeli produk atau memakai jasa layanan tertentu.

Hampir setiap iklan saat ini selalu mengaitkan watak ikon yang mempunyai citra dalam pengiklanannya.kecendrungan untuk membentuk image dan pertukaran nilai semakin memacu kreatifitas para pembuat iklan agar bagaimana nilai dari produk tersebut dapat menarik selera atau menciptakan kebutuhan akan suatu komoditi.Para desainer iklan akan membuat iklan suatu produk seperti terlihat natural, kesatuan tanda yang diambil dari symbol-simbol social, serta nilai-nilai budaya yang ada dimasyarakat. Dari upaya membentuk citra inilah yang kemudian ditafsirkan menyentuh bias-bias gender.

Contoh bias gender dalam iklan misalnya pada iklan rokok. Seperti kita ketahui dalam peraturan pemerintah tentang periklanan terutama tentang rokok, pemerintah melarang keras segala bentuk iklan rokok yang menunjukan hal-hal yang menampilkan bahwa merokok itu enak, menampilkan orang yang sedang merokok, pesan yang dismpaikan juga harus melalui batasa-batasan tersendiri. Efek negative dari rokok itu sendirilah yang membuat pemerintah kita sangat memperhatikan iklan produk yang satu ini. Perusahaan rokok pun sadar akn hal ini sehingga mereka berusaha untuk mensiasati agar iklannya lolos dari seleksi pemerintah dan dapat diterima oleh masyarakat kita.

Oleh karena itu para pembuat iklan akan membuat iklan semenarik mungkin tanpa melawan aturan yang dibuat pemerintah. Iklan yang dibuat pun sekreatif mungkin sehingga masyarakat akan terpesona bila melihatnya. Akan tetapi iklan yang menarik itu terasa menimbulkan bias gender yang sangat banyak tanpa kita sadari.

Lihat saya pada iklan Iklan Djarum Super off road di gambar kan sorang pria dengan mobil off road nya, dengan slogan ayo uji nyali mu taklukan rintangan mengambarkan sosok pria yang sangat kuat, dan mampu menghadapi segala rintangan. Pria dianggap sebagai penakluk alam liar dan pasti bisa menaklukan tantangan pada off road. Tidak ada sosok perempuan sama sekali pada iklan ini. Tidak ada nya sosok perempuan memberikan kesan bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan yang sama dengan pria dalam menaklukan alam liar.Djarum Super dengan slogannya "Bukan Sembarang Pria" sama dengan Rokok gudang garam yang menunjukan bahwa pria adalah mahluk superior dan memiliki kedududukan yang lebih tinggi dari pada perempuan. Sosok bintang iklan yang macho (Shandy Shariff) dan sangat di idolakan oleh perempuan memberikan kesan bahwa dengan rokok tersebut si Pria akan mendapatkan perhatian dari para perempuan.

Dari berbagai contoh iklan diatas, kajian gender dalam tampilan iklan rokok dapat ditinjau lebih lanjut sebagai salah satu bentuk bias-bias gender yang dimunculkan secara semu maupun terselubung dalam rangka pemunculan presepsi bahwa pria adalah makhluk superior dan memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari perempuan.

Contoh lain dari iklan yang bias gender adalah kalau kita lihat iklan ditelevisi tentang minuman hemaviton atau jamu kuat lelaki misalnya, jelas fungsi produk tentu merupakan cairan atau zat yang dapat menambah energi pada tubuh agar stamina tidak menjadi cepat lelah. Tetapi betapa tidak, kreator iklan ini telah berimajinasi untuk menciptakan sebuah presepsi produk. Produk suplemen atau jamu untuk lelaki ini telah diiklankan dengan penayangan yang menyentuh bias gender.

Pengertian kuat, berenergi, serta kemantapan stamina tak jarang diartikan dengan kesiapan dalam urusan ranjang. Dari sinilah maka timbul manipulasi pemikiran, bahwa kekuatan stamina juga hendaknya mantap dalam pengertian sex. Selanjutnya munculah visualisasi figur perempuan sebagai obyek gender yang melengkapi nilai produk. Perempuan dalam jenis representasi seperti ini sering didudukkan dalam posisi yang subordinat, bahwa perempuan telah menjadi obyek akan pengertian ‘stamina’, stamina yang tidak lagi berkutat pada pekerjaan sehari hari tetapi juga pada fungsi reproduktifitas manusia.

Perubahan iklan kadang muncul dalam visualisasinya sebagai konsekuensiuntuk menjabarkan citra suatu komoditi agar dapat bersaing dengan produk kompetitor, dan juga sebagai ujung tombak daya tarik iklan. Pemahaman daya tarik (awareness) ini pun sering pula menjadi permasalahan para desainer iklan ketika membuat iklan sebuah komoditi yang mempunyai jumlah pesaing relatif banyak. Sehingga daya tarik serta citra telah menjadi fenomena yang tidak dapat terelakkan dalam merancang sebuah iklan.Kecenderungan yang kemudian tampak dalam visualisasi iklan adalah menempatkan obyek-obyek pilihan yang diakui sebagai ikon yang dapat diposisikan menempati urutan atas daya tarik visualisasi representasi iklan.

Perempuan sering menjadi alternatif pilihan sebagai obyek yang dapat menciptakan daya tarik serta merefleksikan citra. Bisa dilihat bahwa hanya untuk mengiklankan sebuah produk elektronik seperti televisi, perempuan pun di-casting dengan kostum yang agak sensual, atau bahkan ada representasi iklan televisi yang menampakkan perempuan dengan pakaian serba ketat serta dengan tarian yang erotik dimunculkan sebagai pendamping produk. Ada pula iklan permen yang diidentikkan dengan sebuah tarian tango, yang menampakkan perempuan dengan berbagai pose erotis.

Perempuan memang telah menjadi fenomena komoditas yang tak terelakkan dalam kancah komunikasi iklan. Perempuan telah menjadi sarana bagi daya tarik terhadap aktualisasi nilai produk. Sebuah produk yang pada kenyataannya mempunyai fungsi yang umum, telah dikomunikasikan tidak lagi bersifat fungsional tetapi sudah bergeser ke arah konsep gender. Femininitas seringkali menjadi ajang untuk membuat produk mempunyai nilai tertentu. ‘jantan’, ‘maskulin’, ‘eksklusif’, Pemberani telah menjadi idiom yang dimiliki oleh komoditi seperti rokok,suplemen, parfum, jamu/obat kuat lelaki, otomotif, dan lain sebagainya. Sedangkan sabun, shampoo, peralatan rumah tangga dan dapur sampai elektronik sering pula diartikan sebagai komoditi yang dekat dengan wilayah femininitas.

Perempuan saat ini sudah dijerumuskan lewat iklan. Perempuan dalam iklan telah menjadi korban kapitalisme yang dibelakangnya mengandung budaya patriakal semata. Konsep kecantikan akhirnya didefiniskan dunia kapitalis, padahal kecantikan adalah sesuatu yang alami, anugrah unik yang diberikan Tuhan dalam tiap individu.

D. Kesimpulan

Sampai saat ini masih banyak tindakan maupun kegiatan yang menunjukan bias gender dalam kehidupan sehari-hari, baik dari berbagai saluran media dengan tujuan tertentu dari pihak tertentu maupun menanamkan berbagai macam ideology guna kepentingan pihak-pihak tertentu. Bias gender yang muncul dalam iklan di media massa merupakan salah satu bentuk penindasan maupun penjajahan akan peran wanita dalam kehidupan sehari-hari yang terpatri dalam berbagai aturan atau konsep yang ada, disamping untuk menunjukan superioritas kaum laki-laki dimata wanita.Kesetaraan pria dan wanita yang direpresentasi pada iklan-iklan diatas, dipahami atas dasar antara pria dan wanita mempunyai kesamaan hak serta ciri dan sifat yang menurut konsep gender hanya melekat pada pria dan wanita, sebenarnya dapat dipertukarkan, karena sifat dan ciri itu bukan merupakan kodrat tetapi hasil konstruksi social. Mengubah bias gender dalam pendidikan dan masyarakat sehingga lebih berkeadilan gender sangatlah susah. Perasaan susah ini hanya dapat menjadi ringan kalau ditanggalkan perasaan superioritas kaum laki-laki dan anggapan perempuan akan disubordinasi pria.

Penulis : Frederikus Fandriano Sardima
NIM : 153060184
Jurusan Komunikasi, Fakultas Ilmu Social dan Politik, Universitas Pembangunan Nasional, Yogyakarta 2008

Sumber – sumber :
Desi Budiyanti – JMP, Moderator: Aty Suandi – JMP
Abdulah, Irwan. Sex, Gender dan Reproduksi Kekuasaan. Tarawang, Yogyakarta. 2001
Suwando S.H, Nani.Kedudukan Wanita Indonesia. Ghalia Indonesia, Jakarta. 1981.
Amir .P. Yasraf. Wanita dan Media. Bandung : PT Remaja Roskarya, 1998
www.kompas.com (jumat, 8 September 2000)

tugas ujian

Ujian Akhir Semester Pendek
Mata Kuliah : Komunikasi Kontenporer
Dosen : Subhan Afifi, M.Si
Nama : Frederikus Fandriano Sardima
NIM : 153060184
Hari / Tanggal : Selasa, 5 Agustus 2008

1. Salah satu teori komunikasi yang berkaitan dengan dampak media adalah Hypodermik Needle Theory.
a. Konsep Hypodermik Needle Theory
Apa yang yang dismpaikan oleh media massa umumnya secara langsung atau sangat kuat untuk mempengaruhi audience. Audience, anggota dari masyarakat dianggap punya cirri khusus yang seragam dan dimotivasi oleh factor biologis atau lingkungan dan mereka mempunyai sedikit control. Tidak ada campur tangan diantara pesan dan penerima. Artinya, pesan yang sangat jelas dan sederhana akan jelas dan sederhana pula direspon. Jadi, antara penerima dan pesan yang disebarkan oleh pengirim tidak melalui perantar alias langsung diterimanya. Dalam literartur komunkasi massa ini sering disebut dengan istilah teori jarum hipodermik (hipodermik needle theory) atau teori peluru (bullet theory). Alasannya isi bedil (dalam hal ini ibarat pesan) yang langsung mengenai sasaran tanpa perantara. Teori ini disamping mempunyai pengaruh yang sangat kuat juga mengasumsikan bahwa para pengelolah media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dari audience.
b. Analisis Fenomena sinetron televisi dengan teori jarum hipodermik atau teori peluru.
Berbagai prilaku yang diperlihatkan televisi dalam adegan film iklan ataupun sinetron memberi rangsangan yang sangat besar untuk menirunya. Pada hal semua tahu apa yang terjadi itu semu dan tidak riil terjadi. Tetapi karena begitu kuatnya pengaruh televisi sampai-sampai pamirsa televisi sangat susah melepaskan diri dari keterpengaruhan itu. Bhkan ada beberapa orang yang menganggap televisi sebagai istri kedua, tiada hari tanpa tidak menonton televisi.
Salah satu acara televisi yang saat ini sedang menjadi acara favorite masyarakat Indonesia adalah acara sinetron. Sinetron ini menjadi fenomena yang sangat menarik sekali bagi masyarakat kita. Saat ini hampir 90 persen masyarakat kita terutama ibu-ibu dan anak-anak adalah penikmat sinetron. Hal ini terutama terjadi didaerah-daerah terpencil yang hanya dapat dijangkau oleh beberapa sluran televisi swasta saja. Msyarakat kita sepertinya terbius oleh pesona-pesona yang digambarkan dalam adegan-adegan sinetron. Mereka tidak sadar kalau adegan-adegan ini tidak sungguh terjadi, dan membawa mereka kedunia khayalan. Disinilah peran dari teori hipodermik, dimana media massa (televisi) melalui acara sinetron memberikan efek langsung “disuntikan” kedalam ketidaksadaran audience. Televisi adalah adalah salah satu agen dari teori peluru yang mana bisa mempengaruhi lebih banyak sikap dan prilaku dari masyarakat.
Sumber-sumber:
Bahan ajar sosiologi komunikasi, oleh Retno Hendariningrum.SIP.

2. a. Identifikasi dan Analisa Persoalan-Persoalan yang dihadapi Dunia Penyiaran kita di Era Reformasi.
Dunia penyiaran kita di era reformasi berkembang sangat pesat. Stasiun- stasiun televisi swasta bermunculan diman-mana. Progra-program acaranya pun sangat berkompeten, dikemas dengan baik, dan menarik untuk kita simak. Televisi-televisi swasta ini bersaing secara ketat dalam memperebutkan pamirsa dan iklan. Banyak kalangan memprotes acara televisi yang dianggap tidak mencerdaskan atau membawa dampak negative bagi masyarakat kita. Televisi kita saat ini cendrung menyiarkan tayangan-tayangan tentang kekerasan, pornografi, dan hal- hal yang bersifat khayalan seperti sinetron.
Televisi sebenarnya menjadi media atau alat utama dimana para penontonnya belajar tentang masyarakat dan kultur linkungannya. Melalui televisi kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilai serta adat kebiasaanya. Akan tetapi yang disiarkan oleh televisi kita saat ini sebagian adalah budaya luar, televisi menayangkan acara yang ditiru dari acara-acara televisi luar negri yang tidak sesuai dengan budaya dan adat istiadat kita. Bodohnya lagi masyarakat kita sangat serius mengikuti siaran tersebut tanpa menyadarinya. Para pengelolah televisi kita saat ini umumnya hanya berusaha untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dari acara yang ditayangkan. Mereka tidak lagi memperhatikan kualitas acara yang disiarkan, mereka lebih memperhatikan rating acaranya. Para penonton televisi tidak sadar kalau televisi punya pengaruh yang besar terhadap sikap dan prilaku mereka. Mereka yakin kalau apa yang terjadi ditelevisi itulah yang terjadi didunia nyata.
b. KPI adalah komisi penyiaran Indonesia, KPID adalah komisi penyiaran Indonesia daerah. Tugas dari KPI/KPID adalah mengawas kegiatan pertelevisian kita dan membawa dunia penyiaran kita kelebih baik. Berikut tabel wewenang serta tugas dan kewajiban KPI/KPID:








Wewenang 1. Menetapkan standar program siaran
2. Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran (diusulkan oleh asosiasi/masyarakat penyiaran kepada KPI)
3. Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran
4. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran

5. Melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat











Tugas dan Kewajiban 1. Menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia
2. Ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran
3. Ikut membangun iklim persaingan yang sehat antarlembaga penyiaran dan industri terkait
4. Memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang
5. Menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran
6. Menyusun perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang menjamin profesionalitas di bidang penyiaran


Pelaksanaan wewenang, tugas, dan kewajiban diatas sampai saat ini belum maksimal, karena masih ada acara televisi kita yang menyiarkan tentang kekerasan, pornografi dan acara-acara lainnya yang membodohi masyarakat kita. Kadang-kadang para produser televisi mengemas acara yang hanya mementingkan rating saja tanpa memperhatikan bobot acara, pengaruh dari acara tersebut kepada pamirsa televisi.





3.a. Elektronik public relation adalah inisiatif atau public relation yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitasnya. E-PR memanfaatkan media elektronik untuk membangun hubungan antara bisnis diperusahaan dan public audiens. Ribuab one to one dapat dibangun melalui media internet karena sifatnya yang interaktif. Internet merupakan sarana untuk membangun hubungan yang ampuh bagi sebuah dunia bisnis.Dalam E-PR media online sangat dipentingkan.
b.Kendala dan dan persoalan yang dihadapi dalam implementasi E-PR di Indonesia :
Saat ini penerapan implementasi E-PR sudah banyak diterapkan dalam dunia bisnis diindonesia. Penggunaan teknologi berbasis elektronoik sudah banyak digunakan dinegara kita. Selain itu jaringan internet saat ini sudah masuk kedaerah-daerah. Penyedia jasa internet (PJI), internet service provider (ISP) sudah mencapai 100 buah, namun jumlah pemakai internet diindonesia belum mencapai dua (2) juta orang.
Dalam dunia public relation banyak sekali yang menggunakan internet sebagai jalur untuk pencitraan suatu produk yang dikembangkan oleh suatu perusahaan dan hampir setiap perusahaan memiliki situs tersendiri ataupun website. Berbagai inisiatif dan kreatifitas yang dijalankan oleh perusahaan dalam pencitraan produk melalui internet disitus ataupun website perusahan tersebut. Penggunaan E-PR dapat meningkatkan kemampuan dan daya saing perusahaan.
Salah satu kendala dalam implementasi elektronok public relation adalah kurangnya sumber daya manusia masyarakat kita yang dapat mendukung kegiatan E-PR, selain itu dalam kegiatan E-PR sangat membutuhkan satu atau lebih unsur ICT (information and communication technologies) dan orang yang terampil dalam menggunakannya dan orang-orang yang terampil ini sangat sedikit. sebagian masyarakat Indonesia kebanyakan masih gagap teknologi terhadap perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menganggap jika informasi yang diberikan secara langsung atau tatap muka langsung terbukti kebenarannya dan memang masyarakat mempercayainya.
Selain itu penggunaan media internet pun tidak semua masyarakat kita mengenalnya, banyak yang masih binggung ataupu tidak tahu sama sekali soal penggunaan internet.Kurangnya informasi yang menggunakan bahasa Indonesia menambah binggung pemakai internet.

Sumber-sumber ;
Budi Rahardjo, “Pergolakan Informasi di Indonesia akan sia-sia?”, Koran Tempo, 2001. (To be publish.)


3. Persoalan-persoalan yang melingkupi dunia periklanan kita saat ini sangat banyak, dari masalah gender, kekerasan, pornografi dan sebagainya.Berikut coba saya analisa tentang masalah gender dalam periklanan
Masalah gender bukan saja sekedar jenis kelamin saja, tetepai merupakan masalah persepsi masyarakat tentang laki-laki dan perempuan. Karena banyaknya jumlah laki-laki dimasyarakat pendapat tentang gender jadi berubah. Perempuan diposisikan sebagai obyek subordinate dan laki-laki adalah makhlup yang superior.
Saat ini iklan-iklan ditelevisi banyak menyiarkan tentang iklan yang tidak mendidik masyarakat untuk menghargai perempuan dan laki-laki secara setara. Mereka bermain dilevel iklan dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan dan melestarikan paham bahwa perempuan martabatnya lebih rendah dari laki-laki.
Namun umumnya, hal seperti ini kadung dianggap biasa, wajar, bahkan sudah seharusnya begitu.Perempuan pun, yang sudah mendapat pembiasaan persepsi, menganggap hal itu sudah memang begitu adanya (kodrat). Mereka (perempuan-perempuan itu) akan ngotot mempertahankan status itu, sekalipun berimplikasi pada perendahan martabat perempuan.
Perempuan sering menjadi alternatif pilihan sebagai obyek yang dapat menciptakan daya tarik serta merefleksikan citra. Bisa dilihat bahwa hanya untuk mengiklankan sebuah produk elektronik seperti televisi, perempuan pun di-casting dengan kostum yang agak sensual, atau bahkan ada representasi iklan televisi yang menampakkan perempuan dengan pakaian serba ketat serta dengan tarian yang erotik dimunculkan sebagai pendamping produk. Ada pula iklan permen yang diidentikkan dengan sebuah tarian tango, yang menampakkan perempuan dengan berbagai pose erotis.
Perempuan memang telah menjadi fenomena komoditas yang tak terelakkan dalam kancah komunikasi iklan. Perempuan telah menjadi sarana bagi daya tarik terhadap aktualisasi nilai produk. Sebuah produk yang pada kenyataannya mempunyai fungsi yang umum, telah dikomunikasikan tidak lagi bersifat fungsional tetapi sudah bergeser ke arah konsep gender. Femininitas seringkali menjadi ajang untuk membuat produk mempunyai nilai tertentu. ‘jantan’, ‘maskulin’, ‘eksklusif’, Pemberani telah menjadi idiom yang dimiliki oleh komoditi seperti rokok,suplemen, parfum, jamu/obat kuat lelaki, otomotif, dan lain sebagainya. Sedangkan sabun, shampoo, peralatan rumah tangga dan dapur sampai elektronik sering pula diartikan sebagai komoditi yang dekat dengan wilayah femininitas.
Solusi dari masalah gender dalam periklanan diatas adalah bagaimana para disainer iklan diharapkan untuk membuat iklan yang tidak menampilkan bias gender. Buatlah iklan yang sekreatif mungkin tanpa mengsubordinasikan laki-laki atau perempuan dalam iklannya. Diharapkan juga dilingkungan sekolah, keluarga, dan pemerintahan untuk memperhtikan masalah gender sehingga masyarakat kita paham semuanya akan arti dari gender tersebut.

Sumber-sumber :
Bali Pos, Minggu 12 September 2004.

Amir .P. Yasraf. Wanita dan Media. Bandung : PT Remaja Roskarya, 1998
www.persoalan iklan.com