Ujian Akhir Semester Pendek
Mata Kuliah : Komunikasi Kontenporer
Dosen : Subhan Afifi, M.Si
Nama : Frederikus Fandriano Sardima
NIM : 153060184
Hari / Tanggal : Selasa, 5 Agustus 2008
1. Salah satu teori komunikasi yang berkaitan dengan dampak media adalah Hypodermik Needle Theory.
a. Konsep Hypodermik Needle Theory
Apa yang yang dismpaikan oleh media massa umumnya secara langsung atau sangat kuat untuk mempengaruhi audience. Audience, anggota dari masyarakat dianggap punya cirri khusus yang seragam dan dimotivasi oleh factor biologis atau lingkungan dan mereka mempunyai sedikit control. Tidak ada campur tangan diantara pesan dan penerima. Artinya, pesan yang sangat jelas dan sederhana akan jelas dan sederhana pula direspon. Jadi, antara penerima dan pesan yang disebarkan oleh pengirim tidak melalui perantar alias langsung diterimanya. Dalam literartur komunkasi massa ini sering disebut dengan istilah teori jarum hipodermik (hipodermik needle theory) atau teori peluru (bullet theory). Alasannya isi bedil (dalam hal ini ibarat pesan) yang langsung mengenai sasaran tanpa perantara. Teori ini disamping mempunyai pengaruh yang sangat kuat juga mengasumsikan bahwa para pengelolah media dianggap sebagai orang yang lebih pintar dari audience.
b. Analisis Fenomena sinetron televisi dengan teori jarum hipodermik atau teori peluru.
Berbagai prilaku yang diperlihatkan televisi dalam adegan film iklan ataupun sinetron memberi rangsangan yang sangat besar untuk menirunya. Pada hal semua tahu apa yang terjadi itu semu dan tidak riil terjadi. Tetapi karena begitu kuatnya pengaruh televisi sampai-sampai pamirsa televisi sangat susah melepaskan diri dari keterpengaruhan itu. Bhkan ada beberapa orang yang menganggap televisi sebagai istri kedua, tiada hari tanpa tidak menonton televisi.
Salah satu acara televisi yang saat ini sedang menjadi acara favorite masyarakat Indonesia adalah acara sinetron. Sinetron ini menjadi fenomena yang sangat menarik sekali bagi masyarakat kita. Saat ini hampir 90 persen masyarakat kita terutama ibu-ibu dan anak-anak adalah penikmat sinetron. Hal ini terutama terjadi didaerah-daerah terpencil yang hanya dapat dijangkau oleh beberapa sluran televisi swasta saja. Msyarakat kita sepertinya terbius oleh pesona-pesona yang digambarkan dalam adegan-adegan sinetron. Mereka tidak sadar kalau adegan-adegan ini tidak sungguh terjadi, dan membawa mereka kedunia khayalan. Disinilah peran dari teori hipodermik, dimana media massa (televisi) melalui acara sinetron memberikan efek langsung “disuntikan” kedalam ketidaksadaran audience. Televisi adalah adalah salah satu agen dari teori peluru yang mana bisa mempengaruhi lebih banyak sikap dan prilaku dari masyarakat.
Sumber-sumber:
Bahan ajar sosiologi komunikasi, oleh Retno Hendariningrum.SIP.
2. a. Identifikasi dan Analisa Persoalan-Persoalan yang dihadapi Dunia Penyiaran kita di Era Reformasi.
Dunia penyiaran kita di era reformasi berkembang sangat pesat. Stasiun- stasiun televisi swasta bermunculan diman-mana. Progra-program acaranya pun sangat berkompeten, dikemas dengan baik, dan menarik untuk kita simak. Televisi-televisi swasta ini bersaing secara ketat dalam memperebutkan pamirsa dan iklan. Banyak kalangan memprotes acara televisi yang dianggap tidak mencerdaskan atau membawa dampak negative bagi masyarakat kita. Televisi kita saat ini cendrung menyiarkan tayangan-tayangan tentang kekerasan, pornografi, dan hal- hal yang bersifat khayalan seperti sinetron.
Televisi sebenarnya menjadi media atau alat utama dimana para penontonnya belajar tentang masyarakat dan kultur linkungannya. Melalui televisi kita belajar tentang dunia, orang-orangnya, nilai-nilai serta adat kebiasaanya. Akan tetapi yang disiarkan oleh televisi kita saat ini sebagian adalah budaya luar, televisi menayangkan acara yang ditiru dari acara-acara televisi luar negri yang tidak sesuai dengan budaya dan adat istiadat kita. Bodohnya lagi masyarakat kita sangat serius mengikuti siaran tersebut tanpa menyadarinya. Para pengelolah televisi kita saat ini umumnya hanya berusaha untuk mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya dari acara yang ditayangkan. Mereka tidak lagi memperhatikan kualitas acara yang disiarkan, mereka lebih memperhatikan rating acaranya. Para penonton televisi tidak sadar kalau televisi punya pengaruh yang besar terhadap sikap dan prilaku mereka. Mereka yakin kalau apa yang terjadi ditelevisi itulah yang terjadi didunia nyata.
b. KPI adalah komisi penyiaran Indonesia, KPID adalah komisi penyiaran Indonesia daerah. Tugas dari KPI/KPID adalah mengawas kegiatan pertelevisian kita dan membawa dunia penyiaran kita kelebih baik. Berikut tabel wewenang serta tugas dan kewajiban KPI/KPID:
Wewenang 1. Menetapkan standar program siaran
2. Menyusun peraturan dan menetapkan pedoman perilaku penyiaran (diusulkan oleh asosiasi/masyarakat penyiaran kepada KPI)
3. Mengawasi pelaksanaan peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran
4. Memberikan sanksi terhadap pelanggaran peraturan dan pedoman perilaku penyiaran serta standar program siaran
5. Melakukan koordinasi dan/atau kerjasama dengan Pemerintah, lembaga penyiaran, dan masyarakat
Tugas dan Kewajiban 1. Menjamin masyarakat untuk memperoleh informasi yang layak dan benar sesuai dengan hak asasi manusia
2. Ikut membantu pengaturan infrastruktur bidang penyiaran
3. Ikut membangun iklim persaingan yang sehat antarlembaga penyiaran dan industri terkait
4. Memelihara tatanan informasi nasional yang adil, merata, dan seimbang
5. Menampung, meneliti, dan menindaklanjuti aduan, sanggahan, serta kritik dan apresiasi masyarakat terhadap penyelenggaraan penyiaran
6. Menyusun perencanaan pengembangan sumber daya manusia yang menjamin profesionalitas di bidang penyiaran
Pelaksanaan wewenang, tugas, dan kewajiban diatas sampai saat ini belum maksimal, karena masih ada acara televisi kita yang menyiarkan tentang kekerasan, pornografi dan acara-acara lainnya yang membodohi masyarakat kita. Kadang-kadang para produser televisi mengemas acara yang hanya mementingkan rating saja tanpa memperhatikan bobot acara, pengaruh dari acara tersebut kepada pamirsa televisi.
3.a. Elektronik public relation adalah inisiatif atau public relation yang menggunakan media internet sebagai sarana publisitasnya. E-PR memanfaatkan media elektronik untuk membangun hubungan antara bisnis diperusahaan dan public audiens. Ribuab one to one dapat dibangun melalui media internet karena sifatnya yang interaktif. Internet merupakan sarana untuk membangun hubungan yang ampuh bagi sebuah dunia bisnis.Dalam E-PR media online sangat dipentingkan.
b.Kendala dan dan persoalan yang dihadapi dalam implementasi E-PR di Indonesia :
Saat ini penerapan implementasi E-PR sudah banyak diterapkan dalam dunia bisnis diindonesia. Penggunaan teknologi berbasis elektronoik sudah banyak digunakan dinegara kita. Selain itu jaringan internet saat ini sudah masuk kedaerah-daerah. Penyedia jasa internet (PJI), internet service provider (ISP) sudah mencapai 100 buah, namun jumlah pemakai internet diindonesia belum mencapai dua (2) juta orang.
Dalam dunia public relation banyak sekali yang menggunakan internet sebagai jalur untuk pencitraan suatu produk yang dikembangkan oleh suatu perusahaan dan hampir setiap perusahaan memiliki situs tersendiri ataupun website. Berbagai inisiatif dan kreatifitas yang dijalankan oleh perusahaan dalam pencitraan produk melalui internet disitus ataupun website perusahan tersebut. Penggunaan E-PR dapat meningkatkan kemampuan dan daya saing perusahaan.
Salah satu kendala dalam implementasi elektronok public relation adalah kurangnya sumber daya manusia masyarakat kita yang dapat mendukung kegiatan E-PR, selain itu dalam kegiatan E-PR sangat membutuhkan satu atau lebih unsur ICT (information and communication technologies) dan orang yang terampil dalam menggunakannya dan orang-orang yang terampil ini sangat sedikit. sebagian masyarakat Indonesia kebanyakan masih gagap teknologi terhadap perkembangan teknologi informasi. Oleh karena itu, kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menganggap jika informasi yang diberikan secara langsung atau tatap muka langsung terbukti kebenarannya dan memang masyarakat mempercayainya.
Selain itu penggunaan media internet pun tidak semua masyarakat kita mengenalnya, banyak yang masih binggung ataupu tidak tahu sama sekali soal penggunaan internet.Kurangnya informasi yang menggunakan bahasa Indonesia menambah binggung pemakai internet.
Sumber-sumber ;
Budi Rahardjo, “Pergolakan Informasi di Indonesia akan sia-sia?”, Koran Tempo, 2001. (To be publish.)
3. Persoalan-persoalan yang melingkupi dunia periklanan kita saat ini sangat banyak, dari masalah gender, kekerasan, pornografi dan sebagainya.Berikut coba saya analisa tentang masalah gender dalam periklanan
Masalah gender bukan saja sekedar jenis kelamin saja, tetepai merupakan masalah persepsi masyarakat tentang laki-laki dan perempuan. Karena banyaknya jumlah laki-laki dimasyarakat pendapat tentang gender jadi berubah. Perempuan diposisikan sebagai obyek subordinate dan laki-laki adalah makhlup yang superior.
Saat ini iklan-iklan ditelevisi banyak menyiarkan tentang iklan yang tidak mendidik masyarakat untuk menghargai perempuan dan laki-laki secara setara. Mereka bermain dilevel iklan dengan cara mengeksploitasi tubuh perempuan dan melestarikan paham bahwa perempuan martabatnya lebih rendah dari laki-laki.
Namun umumnya, hal seperti ini kadung dianggap biasa, wajar, bahkan sudah seharusnya begitu.Perempuan pun, yang sudah mendapat pembiasaan persepsi, menganggap hal itu sudah memang begitu adanya (kodrat). Mereka (perempuan-perempuan itu) akan ngotot mempertahankan status itu, sekalipun berimplikasi pada perendahan martabat perempuan.
Perempuan sering menjadi alternatif pilihan sebagai obyek yang dapat menciptakan daya tarik serta merefleksikan citra. Bisa dilihat bahwa hanya untuk mengiklankan sebuah produk elektronik seperti televisi, perempuan pun di-casting dengan kostum yang agak sensual, atau bahkan ada representasi iklan televisi yang menampakkan perempuan dengan pakaian serba ketat serta dengan tarian yang erotik dimunculkan sebagai pendamping produk. Ada pula iklan permen yang diidentikkan dengan sebuah tarian tango, yang menampakkan perempuan dengan berbagai pose erotis.
Perempuan memang telah menjadi fenomena komoditas yang tak terelakkan dalam kancah komunikasi iklan. Perempuan telah menjadi sarana bagi daya tarik terhadap aktualisasi nilai produk. Sebuah produk yang pada kenyataannya mempunyai fungsi yang umum, telah dikomunikasikan tidak lagi bersifat fungsional tetapi sudah bergeser ke arah konsep gender. Femininitas seringkali menjadi ajang untuk membuat produk mempunyai nilai tertentu. ‘jantan’, ‘maskulin’, ‘eksklusif’, Pemberani telah menjadi idiom yang dimiliki oleh komoditi seperti rokok,suplemen, parfum, jamu/obat kuat lelaki, otomotif, dan lain sebagainya. Sedangkan sabun, shampoo, peralatan rumah tangga dan dapur sampai elektronik sering pula diartikan sebagai komoditi yang dekat dengan wilayah femininitas.
Solusi dari masalah gender dalam periklanan diatas adalah bagaimana para disainer iklan diharapkan untuk membuat iklan yang tidak menampilkan bias gender. Buatlah iklan yang sekreatif mungkin tanpa mengsubordinasikan laki-laki atau perempuan dalam iklannya. Diharapkan juga dilingkungan sekolah, keluarga, dan pemerintahan untuk memperhtikan masalah gender sehingga masyarakat kita paham semuanya akan arti dari gender tersebut.
Sumber-sumber :
Bali Pos, Minggu 12 September 2004.
Amir .P. Yasraf. Wanita dan Media. Bandung : PT Remaja Roskarya, 1998
www.persoalan iklan.com
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar